5 Strategi Manajemen Risiko untuk Portofolio Kripto
Saya menyarankan menerapkan aturan 1% untuk membatasi risiko per perdagangan dan menghitung ukuran posisi berdasarkan titik stop-loss, bukan jumlah modal awal.
- Hitunglah ukuran posisi agar Anda hanya kehilangan persentase kecil dari total saldo akun Anda, bahkan jika terjadi cut loss.
- Diversifikasi yang sesungguhnya adalah memiliki aset dengan korelasi yang rendah. Misalnya, stablecoin, emas tokenisasi (RWA), atau saham tradisional yang tidak bergerak seiring dengan Bitcoin.
- Pindahkan aset jangka panjang ke dompet hardware, patuhi regulasi, dan gunakan pertukaran yang transparan untuk meminimalkan risiko penyimpanan.
- Lindungi diri Anda dari peretasan dengan menghindari link mencurigakan, menggunakan dompet pembakar (dompet sementara) saat menggunakan DeFi, dan mengaktifkan 2FA berbasis aplikasi sebagai pengganti SMS.
Pendahuluan
Meminimalkan risiko adalah prioritas utama bagi sebagian besar investor dan pedagang. Bahkan jika Anda memiliki toleransi risiko yang tinggi, Anda tetap akan mempertimbangkan rasio risiko terhadap imbal hasil dari investasi tersebut. Namun, manajemen risiko melibatkan lebih dari sekadar memilih perdagangan atau investasi yang kurang berisiko.
Pentingnya Manajemen Risiko
Aset kripto dikenal luas sebagai kelas aset berisiko tinggi yang dapat diakses oleh investor ritel. Tidak seperti pasar tradisional, pasar aset kripto beroperasi 24 jam sehari dan menghadapi risiko unik seperti kebangkrutan pertukaran, eksploitasi kontrak pintar, dan peretasan jembatan.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengadopsi praktik dan strategi manajemen risiko yang sehat guna mengurangi paparan terhadap risiko potensial. Ini juga merupakan langkah penting untuk menjadi pedagang yang sukses dan bertanggung jawab.
Mari kita bahas lima strategi manajemen risiko yang dapat membantu portofolio aset kripto Anda.
Strategi 1: Aturan 1%
Aturan 1% adalah strategi sederhana yang berarti tidak mempertaruhkan lebih dari 1% dari total modal Anda pada satu investasi atau perdagangan. Namun, banyak pemula yang salah mengartikan jumlah risiko dengan ukuran posisi.
Misalkan Anda menginvestasikan 100 pada satu perdagangan. Ini tidak berarti Anda hanya membeli Bitcoin senilai $100.
Sebaliknya, Anda menghitung ukuran posisi berdasarkan titik stop-loss (cut loss). Mari kita lihat contohnya.
- Anda ingin membeli Bitcoin (BTC).
- Hasil analisis teknikal menunjukkan titik invalidasi (stop-loss) adalah 5% di bawah harga saat ini.
- Jika Anda hanya ingin kehilangan 2.000.
- Perhitungan: 100 risiko.
Dengan menggunakan pendekatan ini, Anda dapat mengambil posisi yang lebih besar sambil tetap membatasi risiko akun secara ketat.
Strategi 2: Menetapkan Titik Stop-Loss dan Take-Profit
Perintah stop-loss menetapkan harga aset di mana posisi Anda akan ditutup. Harga stop-loss ditetapkan lebih rendah dari harga saat ini, dan saat terpicu, mencegah kerugian yang lebih besar.
Perintah take-profit bekerja dengan cara yang berlawanan, menetapkan harga untuk menutup posisi dan mengunci keuntungan yang ada.
Anda harus waspada terhadap slippage dan celah tak terduga. Misalnya, dalam situasi flash crash (penurunan tajam tiba-tiba), harga bisa jatuh dari 90, melewatkan stop-loss yang ditetapkan di $99. Untuk mengurangi ini, hindari penggunaan leverage tinggi. Dengan leverage tinggi, Anda bisa dilikuidasi bahkan sebelum stop-loss dieksekusi.
Lebih baik menetapkan batasan ini sebelumnya daripada di saat emosi memuncak. Mungkin terasa asing untuk memikirkan perintah take-profit sebagai bagian dari manajemen risiko, tetapi jangan lupa bahwa semakin lama Anda menunda realisasi keuntungan, semakin besar risiko pasar bergerak melawan posisi Anda.
Strategi 3: Diversifikasi dan Hedging
Diversifikasi portofolio adalah salah satu alat paling populer untuk mengurangi risiko keseluruhan. Namun, di pasar aset kripto, korelasi antar aset sangat tinggi. Jika Bitcoin jatuh, sebagian besar altcoin kemungkinan besar akan jatuh lebih dalam. Oleh karena itu, membeli 10 altcoin spekulatif bukanlah diversifikasi dalam arti sebenarnya.
Diversifikasi yang sesungguhnya adalah memiliki aset yang bergerak secara independen dari pasar aset kripto. Ini dapat mencakup:
- Stablecoin: Menyimpan sebagian portofolio dalam stablecoin (atau tunai) membantu menghindari volatilitas dan memberikan peluang untuk membeli saat harga turun.
- Aset Terkait Dunia Nyata (RWA): Emas yang tokenisasi atau obligasi negara.
- Aset Keuangan Tradisional (TradFi): Saham, real estat, atau obligasi.
Hedging adalah strategi yang sedikit lebih maju. Mari kita asumsikan Anda berharap harga Bitcoin akan turun dan Anda memasukkan kontrak futures jual BTC untuk melindungi diri dari risiko ini. Jika harga Bitcoin turun, keuntungan dari posisi short akan menutupi kerugian portofolio Anda.
Namun, perdagangan futures melibatkan risiko likuidasi dan biaya pendanaan. Cara hedging paling aman bagi pemula adalah dengan menjual sebagian aset kripto dan mengonversinya menjadi tunai atau stablecoin.
Strategi 4: Risiko Penyimpanan
Keruntuhan perusahaan besar seperti FTX atau Celsius mengingatkan kita kembali akan pentingnya risiko penyimpanan. Menyimpan dana di bursa terpusat pada dasarnya berarti menjadi kreditor tanpa jaminan.
Untuk mengelola risiko ini, pilihlah platform yang memiliki reputasi baik. Carilah bursa dengan rekam jejak terbukti dan kepatuhan regulasi yang kuat. Anda juga dapat memindahkan aset jangka panjang ke dompet hardware dan menyimpan hanya apa yang diperlukan untuk perdagangan di bursa terpusat.
Opsi lain adalah menggunakan layanan dompet non-custodial untuk mempertahankan kontrol penuh atas dana Anda saat menggunakan pasar dan layanan aset kripto.
Strategi 5: Keamanan Operasional
Keamanan operasional sangat penting. Tidak peduli seberapa bagus strategi perdagangan Anda, Anda bisa kehilangan semuanya karena peretasan atau penipuan. Perhatikan hal berikut:
- Risiko Phishing: Jangan pernah mengklik link di email atau DM yang mengatasnamakan airdrop atau peringatan keamanan. Jika Anda curiga, pilihlah metode aman dengan memeriksa berita langsung melalui saluran resmi. Disarankan untuk membookmark halaman resmi yang sering Anda kunjungi untuk mencegah kesalahan.
- Kontrak Berbahaya: Hati-hati dengan kontrak pintar yang Anda setujui. Gunakan dompet pembakar saat berinteraksi dengan protokol DeFi baru atau berisiko.
- 2FA: Selalu gunakan aplikasi autentikasi (seperti Google OTP) atau kunci perangkat keras (seperti YubiKey) untuk keamanan bursa. Hati-hati dengan 2FA SMS yang rentan terhadap serangan pertukaran kartu SIM.
Kesimpulan
Manajemen risiko yang tepat membutuhkan lebih dari sekadar memantau grafik harga. Ini termasuk melindungi kunci pribadi, memahami risiko kontrak pintar, dan mengatur ukuran posisi yang tepat untuk bertahan hidup dalam volatilitas pasar.
